BOJONEGORO, Waskat.id – Kepala Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Meyke Lelyanasari, S.Pd, membuat gebrakan baru dengan membuka ruang publik demokrasi bertajuk ”Ngopi Bareng Mbak Kades” untuk menjaring aspirasi warga desa. Forum ini diadakan setiap satu bulan sekali. Semua yang hadir mendapat hak yang sama untuk menyampaikan pendapat, kritik, usul dan saran.

Meyke Lelyanasari kepada Waskat.id mengungkapkan, kata ”Ngopi” dalam kegiatan Ngopi Bareng Mbak Kades merupakan akronim dari Ngobrol Penuh Inspirasi. Sehingga semua yang hadir memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat, ide atau gagasan demi kemajuan desa.

’’Forum Ngopi Bareng Mbak Kades tidak hanya sekedar kumpul-kumpul untuk minum kopi dan makan cemilan, namun juga sebagai media untuk menyerap aspirasi warga desa,’’ ungkap Meyke Lelyanasari.

Dijelaskan, unsur yang hadir dalam ”Ngopi Bareng Mbak Kades” yakni Kepala Desa (Kades) beserta perangkat desa, Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD) yakni PKK, Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), Karang Taruna, dan Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa yakni BUMDesa (Badan Usaha Milik Desa) serta berbagai lapisan masyarakat dengan latar belakang pendidikan dan profesi yang berbeda-beda.

Acara Ngopi Bareng Mbak Kades dilaksanakan secara bergiliran di masing-masing RW. Tempatnya di warung kopi yang memiliki halaman agak luas, bisa menampung warga antara 100 hingga 150 orang.

’’Di forum Ngopi Bareng Mbak Kades ini kita bisa bertatap muka langsung dengan masyarakat. Sehingga pihak pemerintah desa bisa langsung menyampaikan program-program pembangunan dan kekuatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) beserta sumbernya, dan penggunaannya,’’ tutur Kades wanita yang ramah dan murah senyum ini.

Meyke Lelyanasari kepada warga Desa Sukorejo menjelaskan, bahwa APBDes Desa Sukorejo berasal dari pendapatan asli desa yang berasal dari lelang sewa Tanah Kas Desa (TKD), Alokasi Dana Desa (ADD) yang berasal dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, kemudian Dana Desa (DD) berasal dari APBN serta pendapatan asli desa dari Keuntungan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa).

Mbak Mike, begitu sapaan akrab Meyke Lelyanasari, bicara blak-blakan di depan warganya tentang penggunaan APBDes untuk pembangunan desa. Namun dia juga minta maaf karena secara kuantitas pembangunan di Desa Sukorejo mengalami penurunan. Hal ini disebabkan nilai ADD dan DD yang diterima Desa Sukorejo mengalami penurunan sangat drastis . Besaran DD dan ADD untuk Desa Sukorejo pada tahun 2025 sekitar Rp 2,7 miliar namun pada tahun 2026 mengalami penurunan sangat drastis hingga tinggal Rp 1,2 miliar.

’’APBDes Sukorejo turun drastis seperti kena tsunami akibat adanya efisiensi dan pengurangan oleh pemerintah pusat untuk pembiayaan Koperasi Desa Merah Putih,’’ kata Mbak Mike.

Namun demikian Mbak Mike sebagai kepala desa tetap optimis dapat menjalankan roda pemerintahan desa dengan baik serta memberikan pelayanan yang prima kepada warganya, dan tetap melanjutkan pembangunan desa sesuai dengan pagu anggaran yang ada.

Problem Desil Dan Masalah Krusial Jalan Macet

Desa Sukorejo Kecamatan Bojonegoro lokasinya berada di selatan jantung kota Bojonegoro. Desa ini memiliki dua dusun yakni Jambean dan Krajan. Sedangkan penduduknya sekitar 10.000 jiwa yang tersebar di 40 wilayah RT dalam 8 RW. Pekerjaan penduduk Sukorejo mayoriyas karyawan swasta, ada pula pedagang, PNS, Polisi, Tentara dan minoritas petani.

Letak Desa Sukorejo di dalam kota menjadikan desa ini padat penduduk migran. ’’Penduduk Sukorejo sangat homogen sehingga menjadi aset SDM istimewa bagi pembangunan sosial budaya. Mereka sangat guyub rukun meskipun beda-beda latar belakang pendidikannya,’’ ungkap Meyke Lelyanasari.

Jika warga sudah berkumpul dalam acara Ngopi Bareng Mbak Kades, rata-rata mereka menyampaikan aspirasi tentang pembangunan di RTnya masing-masing. Misalnya tentang drainase atau saluran air yang sering mampet hingga menimbulkan genangan banjir saat musim hujan. Ada juga yang minta difasilitasi pembuatan sumur bor karena sulit mendapatkan air di musim kemarau.

Banyak pula warga yang menanyakan tentang pendataan DTSEN (Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional) serta penentuan DESIL (sistem pengelompokan tingkat kesejahteraan keluarga). Karena dua hal ini dianggap sangat rentan menimbulkan masalah kecemburuan sosial atas penerimaan bantuan dari pemerintah. Jika DTSEN dan DESIL benar-benar tidak sesuai dengan fakta di lapangan, tentu sangat mungkin menjadi pemicu munculnya kesenjangan dan kerawanan sosial.

Selain itu, persoalan paling krusial di Desa Sukorejo yakni terjadinya kemacetan arus lalu lintas di Jalan Wolter Monginsidi dan Jalan Gajah Mada. Hal ini disebabkan sempitnya jalan dan padatnya kendaraan yang lewat dan lintasan rel kereta api yang berada terlalu dekat dengan pertigaan. Arus lalu lintas macet total pada pagi dan sore saat anak-anak berangkat sekolah dan pulang sekolah. Mereka berhenti total saat ada kereta api jurusan Jakarta – Semarang – Surabaya sedang melintas.

Lobi Pihak Ketiga Demi Kesinambungan Pembangunan

Untuk memenuhi desakan warga atas Kesinambungan pembangunan lingkungan desa ditengah efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah pusat, ternyata Kades Meyke Lelyanasari mempunyai jurus jitu, yakni melakukan lobi-lobi kepada pihak ketiga. Misalnya lobi ke anggota dewan, perusahaan swasta untuk mendapatkan CSR (Corporate Social Responsibility) dan dinas terkait.

‘’’Kita harus tetap optimis bahwa usulan warga masih bisa terealisasi meskipun terjadi keterbatasan anggaran akibat adanya efisiensi. Saya mohon semua warga bersabar dan tetap semangat ikut berpartisipasi membangun desa karena masih banyak cara untuk mendapatkan dana,’’ kata Meyke Lelyanasari saat acara Ngopi Bareng Mbak Kades di RT. 17/RW 08, pada Jum’at (7/8/2026). Warga Sukorejo yang hadir pun sontak bertepuk tangan karena Meyke Lelyanasari didampingi suaminya yakni Bambang Sutriyono yang menjabat sebagai wakil ketua dewan.

Meyke Lelyanasari lantas menyampaikan kabar gembira kepada warganya tentang diresponnya usulan pelebaran Jalan Wolter Monginsidi dan pembangunan Jalan Pondok Pinang. ’’Kami sudah sampaikan kepada warga sekitar bahwa akan ada pelebaran di Jalan Wolter Monginsidi. Dan semua telah setuju,’’ tutur Meyke Lelyanasari.

Meyke Lelyanasari mengajak seluruh warga Desa Sukorejo untuk mengaplikasikan motto Pemdes Sukorejo yakni Guyub Rukun Bahagia dan Membanggakan. Hal ini selaras dengan cita-cita para leluhur yang merintis berdirinya Desa Sukorejo dengan pengharapan pembangunan Desa Sukorejo semakin maju dan semakin sejahtera seluruh penduduknya. ***

Wartawan: Kuzaini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *