BOJONEGORO, Waskat.id – Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, meresmikan tempat wisata sejarah Perahu Besi Kuno dan wisata religi Eyang Soeto Prodjo, di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Kamis (11/6/2026).
Peresmian lokasi wisata tersebut ditandai dengan pemukulan kentongan dan penandatanganan prasasti peresmian, serta penyerahan Surat Keputusan (SK) Cagar Budaya Perahu Kuno kepada Kepala Desa Ngraho.
Bupati Setyo Wahono mengatakan sangat mendukung adanya wisata sejarah Perahu Besi Kuno dan wisata religi Eyang Soeto Prodjo. Pihaknya berharap tempat wisata religi dan wisata sejarah ini tetap dilestarikan sehingga bisa terus berkembang dan menjadi pelajaran bagi generasi yang akan datang.
’’Adanya wisata religi dan wisata sejarah di Desa Ngraho ini sebagai bentuk bahwa Kabupaten Bojonegoro memiliki banyak budaya yang luar biasa. Dan pemerintah kabupaten Bojonegoro mempunyai kewajiban untuk melestarikan sehingga generasi ke depan mampu melihat dan menikmati bahwa Bojonegoro kaya akan budaya,’’ tandas Bupati Setyo Wahono.
Ikut mendampingi Bupati Bojonegoro dalam peresmian wisata perahu besi kuno dan wisata religi, antara lain Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro mewakili Kepala Disbudpar, Kepala Desa Ngraho, Muksin beserta perangkat desa setempat, Camat Gayam Erna Zulaikah beserta seluruh Kepala Desa di Kecamatan Gayam, Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro, direktur PT. ADS, direktur PDAM, perwakilan ExxonMobil Cepu Limited dan Pertamina. Selain itu juga hadir jajaran Pengurus Yayasan Bahitro Soeto Prodjo selaku pengelola tempat wisata sejarah Perahu Besi Kuno dan wisata religi Eyang Soeto Prodjo serta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Citra Bengawan Desa Ngraho.
Perahu Besi Kuno Menyimpan Misteri
Menurut Mbah Towo, perahu besi kuno ditemukan pada tahun 2013 di Bengawan Solo. Kerangka besi perahu tertimbun pasir dan lumpur di dasar bengawan, tepat di kedung candi dengan kedalaman 13 meter.
”Proses ekskavasi perahu besi dilakukan secara konvensional pada saat Bengawan Solo airnya meluap hingga setinggi bibir sungai, sekitar 16 meter. Kita dibantu penyelam-penyelam tradisional sekitar 40 orang, yang mampu bertahan di dalam air selama 5 hingga 10 menit tanpa alat bantu pernapasan,” ungkap Mbah Towo Rahadi.
Setelah perahu terangkat ke permukaan kemudian diidentifikasi memiliki panjang 26 meter dengan lebar 6 meter. Teknik pembuatan perahu masih menggunakan sistem keling (riveting) untuk menyambung setiap lembaran plat logam perahu.
Bahan yang digunakan untuk membuat plat perahu dari sisi metalurgi ada sekitar 11 jenis campuran. Antara lain baja, oksida, karbon, sulfida, halida, tembaga, timah, nikel, aluminum, seng, emas, perak, perunggu, dan batu meteor.
Sampai sekarang perahu besi kuno di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam masih banyak menyimpan misteri. Antara lain, belum diketahui tahun pembuatannya, suku bangsa negara yang membuat perahu tersebut dan jenis perahu tersebut apakah untuk perniagaan atau untuk perang pada zaman dahulu.
Situs Perahu Besi Kuno ini sebelumnya pernah dikunjungi turis manca negara antara lain dari Suriname, Korea Selatan, Jepang dan Spanyol. National Geographic juga pernah membawa 30 orang wisatawan domestik ke situs perahu besi kuno ini. Perahu Besi Kuno ini juga pernah dikunjungi guru-guru sejarah dari seluruh SMA/SMK/MA di Jawa Timur. Mereka tidak hanya melihat perahu besi kuno namun juga melakukan pendalaman sejarahnya.***
Wartawan: Kang Zen