BOJONEGORO, Waskat.id – Perempuan memiliki kekuatan besar untuk berkontribusi dalam perubahan, baik skala rumah tangga maupun masyarakat. Kuncinya adalah bagaimana cara menyeimbangkan peran di ruang privat dan ruang publik. Demikian dikatakan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro, Prof Cantika Wahono.

Peran perempuan ini dikupas tuntas dalam dialog interaktif Radio Malowopati FM dalam rangka peringatan Hari Perempuan Internasional dengan menghadirkan Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, Rabu (11/03/2026). Mengusung tema keseimbangan peran, Cantika Wahono berbagi kisah tentang bagaimana nilai-nilai keluarga dan dukungan moral menjadi fondasi utama bagi perempuan untuk terus bersinar di ruang publik.

Dalam bincang hangat dengan host Ayu Kusuma tersebut, Cantika mengungkapkan bahwa kekuatan seorang perempuan seringkali berakar dari keteladanan yang diturunkan antar-generasi. Baginya, sosok ibu dan ibu mertua adalah pilar inspirasi yang membentuk karakternya hingga saat ini.

’’Saya memiliki dua perempuan hebat. Ibu saya, yang berjuang membesarkan empat anak sendirian sejak usia muda, menanamkan nilai bahwa perempuan harus berpendidikan tinggi dan mandiri. Sementara ibu mertua saya mengajarkan kasih sayang melalui perhatian detail kepada keluarga,’’ ungkapnya. Selain sebagai istri dari Bupati Setyo Wahono, Cantika Wahono juga memiliki prestasi gemilang di dunia akademik.

Salah satu poin krusial yang ditekankan Cantika adalah mematahkan stigma bahwa perempuan harus memilih antara karir atau keluarga. Menurutnya, dengan kolaborasi dan dukungan dari ekosistem keluarga, perempuan mampu menjalankan peran strategis di kedua lini tersebut.

Ia sempat mengenang masa awal karirnya sebagai dosen, di mana dukungan dari sang suami menjadi titik balik untuk tetap berkarya.

’’Dukungan keluarga adalah kunci. Ketika kita diberi ruang untuk masuk ke ranah publik, itu menjadi semangat tersendiri. Perempuan memiliki peran strategis untuk lingkungan, masyarakat, bahkan negara,’’ tambah perempuan yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Menanggapi tantangan generasi muda saat ini, Cantika mendorong para remaja putri untuk tidak ragu terhadap potensi diri. Ia menyoroti bahwa keterwakilan perempuan di berbagai sektor baik politik, hukum, maupun ekonomi masih perlu ditingkatkan menuju angka 100% kesetaraan.

’’Setiap perempuan punya sinarnya masing-masing. Tergantung bagaimana kita menyalakannya. Pendidikan dan literasi adalah cara terbaik untuk memastikan sinar itu tetap terang,’’ jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya peran ibu yang cerdas dalam melahirkan generasi yang berkualitas, mengingat ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Menutup dialog tersebut, Cantika Wahono dan didampingi oleh Emi Edi Susanto mengajak seluruh perempuan di Bojonegoro untuk terus bergerak aktif dalam organisasi dan komunitas. Saat ini, tercatat ada puluhan organisasi perempuan di Bojonegoro, termasuk DWP (Dharma Wanita Persatuan) dan PKK, yang menjadi wadah penguatan kapasitas kepemimpinan.

’’Jangan pernah merasa ragu. Teruslah belajar, berkarya, dan memberi manfaat. Ketika perempuan maju, maka keluarga akan sejahtera dan daerah akan semakin kuat,’’ pesannya dengan penuh semangat.

Melalui narasi ini, Cantika Wahono berharap peringatan Hari Perempuan Internasional tidak sekadar menjadi seremonial, melainkan pengingat nyata bahwa kemandirian, kreativitas, dan keberdayaan perempuan adalah modal utama pembangunan Bojonegoro yang lebih cerah. ***

Wartawan: Kang Zen/hmp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *