BOJONEGORO, Waskat.id – Sarasehan Budaya dengan tema ”Pelestarian Cagar Budaya” di lokasi situs cagar budaya Perahu Besi Kuno di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam berlangsung khidmat. Sarasehan yang menjadi bagian dari Festival Banyu Urip 2025 ini dibuka oleh Camat Gayam, Palupi Hadi Ratih Dewanti, SE, MM.
Materi sarasehan yang disajikan tiga narasumber yakni Towo Rahadi (penemu perahu besi kuno), Achmad Satria Utama (petugas pencatat benda cagar budaya wilayah Bakorwil II Bojonegoro) dan Kuzaini (pegiat budaya) mendapat respon peserta sarasehan, sehingga terjadi interaksi positif demi pelestarian dan pengembangan cagar budaya menjadi destinasi wisata.
Sarasehan dihadiri Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, Lukiswati, S.Pd, M.Pd, Forkopimcam Gayam, serta seluruh Kepala TK (Taman Kanak-Kanak), Kepala SD, SMP dan SMA di Kecamatan Gayam. Hadir pula dalam sarasehan ini Kepala Desa, Ngraho beserta perangkat desa, Kepala Desa Bonorejo serta Pengurus Yayasan Bahitro Soeto Prodjo, dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Citra Bengawan Desa Ngraho, Kecamatan Gayam.
Camat Gayam, Palupi Hadi Ratih Dewanti, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Cagar Budaya Perahu Besi Kuno dijadikan ikon unggulan destinasi wisata di Kecamatan Gayam, yang akan dikoneksikan dengan destinasi wisata di desa lainnya seperti destinasi pertanian pertanian di Desa Bonorejo dan destinasi Putuk Kreweng Desa Mojodelik.
’’Sebagai ikon destinasi wisata tentu memiliki daya tarik bagi bagi wisatawan, sehingga wisatawan benar-benar bisa mengambil kenangan dan pengalaman berharga,’’ kata Palupi, sapaan akrab Palupi Hadi Ratih Dewanti.
Sedangkan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, Lukiswati, mengungkapkan bahwa Kabupaten Bojonegoro memiliki destinasi wisata unggulan kelas dunia yakni Geopark, yang sedang diusulkan ke badan dunia Unesco (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) untuk mendapatkan pengakuan. Kesempurnaan Geopark harus memiliki pendukung Geosite, Biosite dan Culturesite.
’’Perahu Besi Kuno di Desa Ngraho Gayam menjadi kelengkapan Bojonegoro Geopark, sehingga perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak agar memiliki daya pikat terhadap wisatawan,’’ tutur Lukiswati.
Sementara itu pelaku budaya di Bojonegoro, Kuzaini, yang menjadi narasumber mengangkat judul Strategi Pengembangan Destinadi Wisata Sejarah Perahu Besi Kuno. Menurutnya, para pihak yang menjadi pengelola benda cagar budaya perahu besi kuno harus intens melaksanakan koordinasi dengan stakeholder, demi mendapatkan dukungan perawatan dan pengembangan wisata.
Towo Rahadi, penemu perahu besi kuno yang menjadi narasumber, menjelaskan proses penemuan perahu besi kuno di dasar Bengawan Solo pada tahun 2013. Ekskavasi perahu besi kuno dilakukan dengan cara konvensional saat air Bengawan Solo meluap setinggi bibir sungai.
’’Kami perkirakan perahu besi kuno ini dibuat sebelum abad 10 Masehi, mengingat ada temus artefak di sekitar perahu besi yang menunjukkan angka 804 Masehi,’’ ungkap Mbah Towo Rahadi yang juga menjadi Juru Pelihara Benda Cagar Budaya Perahu Besi Kuno.
Towo Rahadi yang juga mantan Kepala Desa Ngraho, berharap adanya pengembangan kawasan guna menunjang destinasi wisata perahu besi kuno. Karena tingkat kunjungan wisata mengalami kenaikan secara masif. Misalnya, perahu besi kuno telah dikunjungi guru-guru sejarah di Kabupaten Bojonegoro dan guru-guru sejarah dari SMA/SMK/MA seJawa Timur. Juga dikunjungi wisatawan manca negara dari Suriname, Korea Selatan, Jepang dan Spanyol.
Sementara itu, Achmad Satria Utama, S.Pd materi dengan judul ”Pelestarian Cagar Budaya Perahu Kuno Dengan Wisata Geopark Bojonegoro”. Pria yang bertugas sebagai pencatat temuan Benda Purbakala di Wilayah Bakorwil II Jawa Timur, ini mengungkapkan, temuan Perahu Besi Kuno di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Bojonegoro telah mendapatkan SK Cagar Budaya dari Pemkab Bojonegoro pada tanggal 2 Juli 2024.
’’Saat ini temuan perahu besi kuno sedang dalam proses untuk mendapatkan SK Cagar Budaya tingkat Provinsi,’’ ungkap Achmad Satria Utama. ***
Wartawan: Kang Zen