BOJONEGORO, Waskat.id – Sebanyak 130 siswa-siswi SDN 1 dan SDN 2 Desa Katur serta Madrasah Ibtidaiyah (MI) Alhidayah Desa Ringintunggal, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro melakukan study tour ke tempat wisata sejarah Perahu Besi Kuno dan wisata religi di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, Sabtu (7/2/2026).

Para siswa didampingi guru dari sekolah masing-masing, diterima oleh pengelola wisata sejarah Perahu Besi Kuno dan wisata yakni Yayasan Bahitro Soeto Prodjo dan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Citra Bengawan.

Seperti biasanya, para pengunjung yang ingin melihat perahu besi kuno lebih dulu melakukan ritual do’a bersama guna memohon keselamatan serta kelancaran kegiatan. Setelah berdo’a kemudian mendapatkan penjelasan awal ditemukannya perahu besi kuno dan proses ekskavasi hingga penempatan dan perawatan perahu besi sebagai benda cagar budaya.

”Semua pengunjung perahu besi kuno kita ajak berdo’a lebih dulu. Mendo’akan para leluhur yang merintis peradaban di bumi Nusantara. Juga memohon keselamatan dan kesuksesan dalam menjalankan aktivitas,” tutur Mbah Towo Rahadi, penemu perahu besi kuno sekaligus juru pelihara perahu tersebut.

Menurut Mbah Towo, perahu besi kuno ditemukan pada tahun 2013 di Bengawan Solo. Kerangka besi perahu tertimbun pasir dan lumpur di dasar bengawan, tepat di kedung candi dengan kedalaman 13 meter.

”Proses ekskavasi perahu besi dilakukan secara konvensional pada saat Bengawan Solo airnya meluap hingga setinggi bibir sungai, sekitar 16 meter. Kita dibantu penyelam-penyelam tradisional sekitar 40 orang, yang mampu bertahan di dalam air selama 5 hingga 10 menit tanpa alat bantu pernapasan,” ungkap Mbah Towo Rahadi.

Setelah perahu terangkat ke permukaan kemudian diidentifikasi memiliki panjang 26 meter dengan lebar 6 meter. Teknik pembuatan perahu masih menggunakan sistem keling (riveting) untuk menyambung setiap lembaran plat logam perahu.

Bahan yang digunakan untuk membuat plat perahu dari sisi metalurgi ada sekitar 11 jenis campuran. Antara lain baja, oksida, karbon, sulfida, halida, tembaga, timah, nikel, aluminum, seng, emas, perak, perunggu, dan batu meteor.

” Sampai sekarang perahu besi ini masih menjadi bahan penelitian para arkeolog dan sejarawan guna mendapatkan kepastian tentang tahun pembuatan, suku bangsa yang membuatnya dan pemilik pemilik perahu. Sampai sekarang belum ada kepastian. Ada yang menduga perahu besi tersebut dibuat oleh orang Jawa (empu), namun ada pula yang menyebut bahwa perahu tersebut milik penjajah Belanda dan China. Sampai sekarang belum ada kepastiannya,” tutur Mbah Towo Rahadi.

Namun demikian, tambahnya, perahu besi ini telah mendapatkan SK Cagar Budaya setelah melalui proses yang sangat panjang. ”Perahu besi ini butuh waktu 11 tahun untuk mendapatkan SK Cagar Budaya dari pemerintah ,” ungkap Mbah Towo Rahadi. ***

Wartawan: Kang Zen


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *