Puluhan elemen masyarakat bersinergi dengan Pemerintah Desa Klino dan berbagai organisasi masyarakat sipil, komunitas dan pelaku usaha, melakukan penanaman pohon beringin di tiga titik mata air vital Desa Klino, Kecamatan Sekar, tepatnya di Sendang Malaikat, Sendang Lanang, dan Sumur Bandung.
Kedatangan tim Gerakan Budaya Pelestarian Sumber Air di Desa Klino diterima oleh Sekretaris Desa Klino, Andiko Supriyono, Kepala Dusun (Kadus) Kedaton, Suparno, Kadus Gayam, Risnanto, Kaur Umum, Suwito, dan Kaur Kesra, Semi Samsul Hadi.
Kegiatan ini diinisiasi melalui kerja sama apik antara Wahana Abdi Budaya (WAB), Ademos, Pemerintah Desa Klino, Yayasan Kabel Wahid Indonesia (KWI), Sarung Ijo Nusantara (SIN), Gemuruh, Karya Karsitun Sejahtera, Bjnprfct, Berita Bojonegoro 3 dan Sayur Segar BMW.
Bukan sekedar melakukan penanaman, kegiatan ini dikemas sebagai sebuah gerakan kebudayaan. Pemilihan pohon beringin (ficus benjamina) memiliki filosofi mendalam sebagai “pohon pamomong” yang secara ilmiah terbukti efektif menyimpan cadangan air tanah dalam jumlah besar dan menjaga kestabilan tanah di sekitar mata air.
Kuzaini, selaku Koordinator Kegiatan menegaskan bahwa aksi ini adalah respons nyata terhadap tantangan perubahan iklim dan penurunan debit air yang mulai dirasakan di berbagai wilayah.
”Menanam beringin di area sendang bukan hanya soal menancapkan bibit ke tanah, tapi ini adalah upaya kita ‘menanam peradaban’. Beringin adalah benteng terakhir penjaga mata air. Kami bergerak bersama lintas komunitas hari ini dengan satu kesadaran: jika kita menjaga alam, alam akan menjaga kita. Ini adalah warisan oksigen dan air bersih yang kami siapkan untuk anak cucu kita di Bojonegoro 20 hingga 50 tahun ke depan,” tutur Kang Zen, sapaan akrab Kuzaini menjelaskan.
Gerakan ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Desa Klino. Sinergi antara Pemerintah Desa, elemen masyarakat sipil, pelaku usaha dan pegiat media sosial dinilai sebagai kunci keberhasilan pembangunan desa yang berkelanjutan. Andiko Supriyono, Sekretaris Desa (Sekdes) Klino, menyambut positif inisiatif ini sebagai langkah strategis bagi desanya.
”Pemerintah Desa Klino menyambut hangat dan mendukung penuh sinergi luar biasa ini. Desa Klino dianugerahi potensi alam yang indah, dan kewajiban kita adalah merawatnya. Kehadiran berbagai elemen yang peduli pada Sendang Malaikat dan sumber air lainnya di desa kami adalah bukti bahwa semangat gotong royong masih sangat hidup. Harapan kami, akar beringin yang kita tanam hari ini akan sekuat ikatan persaudaraan kita dalam membangun Desa Klino yang lestari dan mandiri air,” ujarnya.
Suasana kegiatan terasa semakin khidmat dengan kehadiran para sesepuh desa. Mbah Datrap, Tokoh Masyarakat dan sesepuh Dusun Kedaton, memandang kegiatan ini sebagai bentuk penghormatan kembali manusia kepada alam yang memberinya kehidupan.
”Banyu iku getihe bumi (Air itu darahnya bumi). Leluhur kita dulu sangat menghormati sendang, bukan karena takut demit, tapi karena takut anak cucunya kehausan. Melihat anak-anak muda, pemerintah, dan warga guyub rukun menanam beringin di Sendang Malaikat, Sendang Lanang dan Sumur Bandung, hati saya ayem. Ini berarti kita sedang ‘nguri-uri’ (melestarikan) wasiat leluhur untuk tidak serakah, dan terus merawat sumber kehidupan agar tidak mati obor,” tutur Mbah Datrap, Sesepuh Dusun Kedaton, Desa Klino.
Kegiatan diawali dengan giaran dan doa bersama serta ditutup dengan komitmen untuk terus memantau pertumbuhan pohon-pohon yang telah ditanam. Semangat yang terpancar dari Desa Klino hari ini menjadi pengingat bahwa pelestarian lingkungan bukanlah tugas satu pihak, melainkan tanggung jawab kolektif demi masa depan yang lebih hijau. ***
Wartawan: Aditya Nugraha